Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Heboh! Ngewe Anal Seks Tante Selvi 2
Aopok.com - Akhirnya kami berdua berjalan mencari restoran. Tapi entah di sengaja atau tidak, kayaknya dia sengaja setelah aku renungkan kemudian, kami pun makan di resto Hotel Ciputra. Bukan di restoran di mal.
Di sana terlihat kami makin akrab. Tapi jujur tidak ada terbersit sedikitpun aneh-aneh atau rancangan jahat apalagi pikiran sex pada tante Selvi. Aku masih anggap sebagai teman bahkan calon klien tempat aku bekerja. Mungkin karena melihat aku yang begitu polos, santun dan rapi, dirinya makin penasaran.
Akhirnya entah kenapa waktu aku tanyakan menginap di mana, dan dikatakan di hotel Ciputra, aku mau aja diajak melihat-lihat di sana. Aku gak habis pikir kenapa.
Sudah tahukah apa yang terjadi di sana?
Kejadiannya begitu cepat. Sewaktu berdua di kamar hotel, tante Selvi meminta aku duduk dekat dirinya di tepian tempat tidur.
“Lex, kemari… tante pengen ngobrol sama kamu.”
Aku berjalan menghampiri dirinya dan duduk pas di sebelahnya.
“Lex, menurut kamu kenapa pernikahan saya berantakan? Apa yang kurang dari saya sebagai seorang isteri?”
Aku terdiam. Membisu. Kebisuan yang sama yang pernah menghampiri diriku waktu dia mengatakan horni ketika menelepon aku beberapa waktu lalu.
“Lex..kok ga jawab. Tatap mataku Lex.”
Lalu dia meraih tanganku dan menuntunya untuk menaruhnya di dadanya.
“Lex, kamu tahu gak ada berapa beban dan luka di hati ini? Sudah cukup lama aku bertahan dalam keadaan seperti ini. Kamu mungkin gak akan mengerti betapa berat beban yang harus dipikul seorang wanita seperti diriku ini. Tak bisa aku ceritakan semuanya.”
Aku masih terdiam. Telapak tanganku merasakan detak jantungnya yang lembut. Aku kikuk. Gak tahu harus berkata apa.
“Lex..” kata tante Selvi sambil berdiri dan berjalan menjauh dariku ke arah jendela. Aku masih duduk bagaikan patung.
Tante Selvi berdiri terdiam sambil menatap keluar dari jendela. Hamparan kota Jakarta dari lantai 6 hotel cukup indah terlihat. Kedua tangannya di silangkan.
Karena feeling dan bisikan hati, “Ayo hampiri dia dan hibur dia Lex.”
Terkait
Belum lagi suara hati kurang ajar, “Lex, cantik Lex..Hajar Lex..Hajar..”. Campur aduk rasanya. Akhirnya aku berdiri dan menghampiri tante Selvi.
“Tante..” kataku ringan. Sambil pegang pundaknya. Namun dirinya tetap diam.
“Tante..” bisikku sambil memeluknya. Dia pun berbalik badan dan menatap tajam padaku sambil tersenyum.
Kupeluk dirinya, kurangkul pinggangnya. Kudekap erat dari belakang. Cukup lama terdiam kami berdua menatap kota Jakarta. Terlihat jelas gedung pencakar langit dari Kampus Trisakti dan Untar. Lanjut baca!

No comments :
Post a Comment
Leave A Comment...